Thursday, March 9, 2017

Dear Husband, Now That You're A Father

Dear Husband,

Now that you are a father and I am a mother of our beautiful child, I would like to let you know that I am so thankful to have you both in my life.

I understand that our lives have changed, if not so drastically, since the day she was born. For the better? Or for the worse?

Do you remember that we used to fight on weekends, about which places to go, which restaurant to dine, which house appliances to buy, which brand of soap we want to try. All those trifling things.
Oh, we used to fight on weekdays, too - when you and I got home, both tired after a long daaaaay of work, and I still had to cook for at least 30 minutes (and washed the dishes after) while you only needed 5 minutes to finish the whole plate.
Remember that we also lived in a small cube on the 25th floor back then? We could not avoid each other when we fought, because we would ALWAYS bump at each other in that 31 sqm space. Tricky.

Yes, we used to fight. But we immediately made up and things got better before bed - where we enjoyed the spacious bed, just the two of us.

Do you remember that I always kept my hair nice-smelling and you liked to sniff it?

During our TTC journey, you were the one who kept me going. You gave me the courage to undergo any medical procedure needed so that we could have a child. You held my hand after we did the IUI, you wiped my tears when we failed the IUI. You, yourself, had also beaten your fear and dealt with those uncomfortable feelings during medical exams.

Oh, I also did not forget to cut your toenails once every 2 week!

We used to say "I Love You" before we went to bed.

We watched movies religiously.

We were so close.

Now that she's here, I have to admit that we are growing apart...

Literally, we don't sleep next to each other now that the baby sleeps between us. We hardly kiss each other goodnight because I am often too tired and doze off completely as soon as the baby sleeps, and you can not be bothered, busy playing that Clash Royale of yours.

My hair does not always smell like a fresh flower bouquet because I rarely have time to dry it all up in the morning - you know, I have to prepare myself to go to the office, feed our baby, prepare her milk, pack my bags (now that I am a mother and I need to carry at least 2 humongous bags to work).
Is that the reason why you no longer kiss me on the forehead before you go to work? Maybe not. Maybe you enjoy smooching our little baby better, honestly speaking, she DOES smell better. And as she gets bigger, maybe she gets to hold your hands far more often than I do.

And when was the last time we went to catch a new movie? Star Wars, was it? We missed Rogue One, and now The Last Jedi is already approaching. Couldn't care less, could we?

I am sorry now I don't have much time for you, now that I am a mother. I have forgotten about keeping your toenails short, just like I have forgotten many things. I am too forgetful nowadays. Between work and household chores, between monthly reports and dirty diapers. It's getting so hard to focus and remember things when you can only worry about one small baby (but a super cute one).

Dear Husband, I just want you to know that I have never been happier now and you are part of that happiness of mine. I am a mother, my priority in life has completely changed - family is number one on my list, and you are also a part of it. I am now a parent, we are now parents, let's be a good one. We are responsible for the life of this tiny human, an amanah from God. Let's work together to raise her to be a wonderful human being. Please help me when I am in need (I mean, when I'm so beat after a series of begadang night), and I promise you have my total support, too.

Dear Husband, now that you are a father. Continue to be an amazing one. Love her, teach her, protect her. Make sure that one day she will run to you, hug you and say that she is proud of you.

I love you, I love her, and I love us. I've said this before, and I'm saying it again, and maybe I will keep on saying this until we're gone (even that is not possible).

"Thank you for being here and now,
and the forever ever after in the making."

I don't believe in forever, though. But both of you certainly make me think that forever (being with you both) is a pleasant idea.

Okay, maybe the quote sounds exaggerating. Please just hold my hand (and hers) and never let go.
That's good enough for now.

Oh, and please continue to tell me that I am not THAT fat, you know THAT is key in every relationship.
Love you!

From There, To Here
(She doesn't seem interested to take a good family wefie, no?)

Thursday, March 2, 2017

The Diare Diary

WARNING. Baby poop pictures ahead. Turn back if you want to, you have been warned. 😀

I know. The title sounds weird, tapi beberapa waktu yang lalu kami sungguh intens bertarung melawan diare yang dialami Sid sejak masih berusia 4 bulan.

Diare pada bayi memang sulit untuk diidentifikasi, karena natur pup bayi yang memang cair. Bedanya, kalau bayi memang mengalami gangguan pencernaan pasti pup-nya akan bercampur mucus atau lendir. Tidak tampak? Well, harus dilihat dengan seksama setiap kali. Makanya saya selalu foto setiap kali Sid pup - now I have a fun collection of poop pictures on my phone jadi kalau mau lihat supaya bisa belajar tentang diare bayi, silakan japri hehehehe...

It was a fine Sunday afternoon in early November ketika saya sedang mengganti popok Sid setelah ia bermain dengan kakak-kakak sepupunya. Saya melihat ada titik-titik merah di antara lautan kecoklatan dan saya langsung panik. Kami pun segera ke UGD untuk mencari pertolongan, padahal kalau dilihat Sid tampak ceria dan baik-baik saja, berat badannya pun bagus. Di UGD dilakukan cek feses singkat dan hasilnya ada darah samar (occult blood) dan leukosit (pup normal leukosit 0). Dokter UGD hanya kasih Lacto-B dan kami diminta konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak (DSA) di pagi hari.

Di Ruang Tunggu Dokter, With Iyang

Kami balik keesokan hari ke rumah sakit dan DSA bilang ada dua kemungkinan diare berdarah, yaitu infeksi bakteri atau alergi susu sapi (dari ASI ibu). Kami diminta cek feses lagi, dan ternyata leukosit makin meningkat sehingga DSA meresepkan antibiotik (saya lupa namanya) dan Lacto-B.

Diare Dengan Bintik Darah

Setelah minum antibiotik, pup Sid tampak normal selama kurang lebih satu minggu lalu tiba-tiba muncul darah dan lendir lagi. Saya sungguh cemas, karena saya lihat bayi kecil kami ini tetap ceria meski kenaikan berat badannya melambat dan stuck di sekitar 6.2 kilogram. Kami konsultasi lagi ke DSA, cek feses lagi,  dan kali ini dinyatakan alergi susu sapi sehingga ibu harus pantang konsumsi susu sapi dan produk turunannya. Bye bye martabak, cokelat, keju, pizza, biskuit-biskuit... Antibiotik sudah tidak perlu diberikan. Dua minggu berlalu, saya terus menerus di-PHP-in oleh pup-nya Sid - karena satu hari bagus, besok muncul darah dan lendir, eh lusa bagus lagi. Pusing kepala mamak. Mungkin karena Sid masih minum ASIP yang saya stock sebelum pantang dairy ketika saya kerja, jadi saya siapkan ASIP freshly-pumped tapi si BAB berdarah masih juga datang dan pergi silih berganti.

Akhirnya karena sudah sebulan nggak tuntas, kami memutuskan ke DSA sub-spesialis gastroenterologi di bulan Desember 2016. Ketika ditimbang, berat badan Sid naik sedikiiiit banget dan dalam hati saya mulai menghakimi diri sendiri karena nggak becus ngurus anak, rasanya langsung pingin resign besok. Sid diberikan antibiotik Flagyl karena dari tes feses sebelumnya masih ada leukosit yang cukup tinggi (di atas 5), lalu tes feses lengkap dan kultur feses untuk melihat apakah ada pertumbuhan bakteri. DSA ini mengultimatum, kalau dalam 3 hari masih ada bintik darah, mau nggak mau mesti rawat inap. Hati saya rasanya seperti dikremek-kremek...

Karena nggak membaik, saya harus merelakan bayi kecil usia 5 bulan ini untuk rawat inap dan dipasangi selang infus. Di rumah sakit, alhamdulillah si bayi tetap ceria padahal ibunya setiap malam nangis dan susah tidur (it's soooooo heartbreaking to see her little hand being connected to a machine with a needle). Selama di RS, Sid diberi Flagyl, Orezinc, Lacto-B dan infus metronidazole tambahan.

Stay Healthy, Baby!

Setelah 3 hari rawat inap, hasil kultur feses baru keluar (karena kultur memang harus 5-7 hari) dan ada temuan salmonella. What? Kaget banget, karena bakteri ini harusnya cuma ada di makanan atau sisa feses yang notabene jorok banget, saya benar-benar nggak paham bagaimana bayi saya bisa terpapar bakteri ini. Apparently, DSA bilang treatment-nya sudah tepat karena bakteri salmonella ini sensitif terhadap metronidazole. Begitu pulang dari rumah sakit, DSA wanti-wanti supaya semua peralatan bayi langsung disterilkan dengan air mendidih dan siapapun harus cuci tangan atau pakai disinfektan sebelum pegang Sid. Pemberian Orezinc dan Lacto-B lanjut sampai kira-kira 5 hari setelah keluar rumah sakit.

Sakit, But She Could Still Pull Off This Look

Siapa mengira jika tidak lama setelah rawat inap, tiba-tiba ada pup dengan bintik darah lagi. Saya langsung lemes, meski suami berusaha menenangkan. Setelah bertanya dengan adik ipar yang kebetulan sedang ambil spesialis anak, kami pun memutuskan pergi ke ahli gastroenterologi anak yang konon paling jago se-Indonesia yaitu Prof. Dr. dr. Agus Firmansyah, SpA(k). Beliau cuma praktek di RSCM Kencana (pagi, Senin dan Kamis) dan RSIA Hermina Bekasi (sore, Senin hingga Jumat). Karena sudah siang, kami terpaksa menyambangi beliau di RSIA Hermina Bekasi. Antrian ke Prof. Agus ini lumayan panjang, kami harus menunggu sekitar 3 jam lebih untuk bertemu beliau. Ketika diperiksa, Prof. Agus yang santai dan humoris ini langsung ngomelin saya...

"Masa bayi sekecil ini dikasih Flagyl?"

Menurut Prof. Agus, Sid hampir pasti mengalami alergi susu sapi yang menyerang saluran cerna dan menyebabkan diare berdarah. Mengapa demikian?

1. Tidak ada indikasi klinis si anak sakit, sebab anak bergerak aktif, ceria dan tidak rewel. Tidak demam dan masih mau menyusui dengan normal.
2. Infeksi bakteri salmonella sangat jarang terjadi, dan biasanya menyerang hanya pada kondisi lingkungan yang menurut Prof. Agus jorok buangeeeetttt.
3. Saya mengaku bahwa setelah bayi keluar dari rumah sakit, saya mulai konsumsi keju, biskuit, dan makanan lain yang mengandung susu sapi (meski belum berani untuk minum susu sapi).

Kami keluar dari ruangan Prof. Agus dengan (sedikit) lega. Beliau tidak memberikan obat atau suplemen apapun, not even Lacto-B. Saya disarankan untuk terus pantang susu sapi selama masih memberikan ASI dan diberikan tips untuk memulai MPASI dengan menghindari MPASI instan yang biasanya mengandung susu sapi.

Pesan dari Prof. Agus,
"Treat the child, not the lab result."
Maksudnya, kita harus cermat mengamati kondisi klinis anak kita. Jika anak demam, tampak lemas atau kesakitan, cenderung mengantuk atau menangis terus, tidak mau menyusu dan makan minum, nah itu saatnya kita waspada dan harus segera ke dokter atau rumah sakit. Sebaliknya, jika anak tidak demam, masih ceria dan tidak rewel, bergerak aktif, masih menyusui seperti biasa, nafsu makan normal, maka kita seharusnya bisa menangani diare di rumah, tanpa perlu tambahan antibiotik yang kurang baik bagi bayi. Kunci penanganan diare di rumah cukup sederhana tapi memang butuh ketelatenan ibu, yaitu cukupi asupan cairan (makan dan minum). Kalau makanan dan minuman biasa dirasa kurang, bisa diberikan oralit (saya pakai merek Pedialyte dan Dehidralyte).
Jangan lupa, tetap rawat bayi dan anak dengan penuh kasih sayang, tetap sabar dan tenang.

Nah, sabar dan tenang ini justru yang paling sulit dilakukan karena ibu-ibu kalau anaknya sakit kan rasanya sedih banget dan mau jedot-jedotin kepala ke tembok...

Semangat, mommies!

Thursday, December 22, 2016

Menjadi Ibu

There's a story behind everything. But behind all your stories is always your mother’s, because hers is where yours begin.
[Mitch Albom]
Hari Ibu kali ini terasa berbeda. Mengapa? Karena ini adalah pertama kalinya saya merayakan Hari Ibu dengan menjadi seorang ibu.

Bahagia? Banget.

Saya tahu bahwa kehadiran anak akan mengubah banyak hal dalam hidup, mulai dari gaya hidup, pola makan, bentuk fisik, jam tidur, nggak bisa nonton bioskop, mandi harus buru-buru (loh jadi curhat ini...) dan banyak hal lainnya. Tapi saya sungguh tidak menyangka bahwa secara personality saya pun berubah. Misalnya, dulu saya sering ngambek dengan mood swing yang lumayan parah dan tak tentu arah, nggak bakal sembuh kecuali disogok aneka cemilan yang saya suka oleh suami. Kini, saya jadi lebih kalem dan tenang menghadapi berbagai hal, seperti saat macet di jalanan, mobil yang saya kendarai disenggol motor, menghadapi beban pekerjaan, dan lainnya - stay calm and composed. Sepertinya sekarang jatah panik, riweuh dan nangis-nangis heboh hanya terpakai kalau anak sakit.
  
Tidak hanya itu, ada satu hal terbaik yang saya rasakan sejak menjadi ibu - saya jadi lebih dekat dengan Mama. Saya sungguh berterima kasih kepada Mama karena saya memang memercayakan Sid untuk dijaga dan dirawat oleh Mama selama saya bekerja. Beliau, dengan ikhlas dan tanpa mengeluh, bersedia untuk menggantikan peran saya sebagai ibu selama sekitar 11 jam, 5 hari dalam seminggu. Meski ada seorang mbak di rumah yang sigap membantu, Mama tetap berkomitmen untuk turun tangan sendiri mengurus Sid, kecuali saat ada kegiatan di luar rumah seperti mengaji - itu pun hanya sekitar 2 jam di hari Senin dan Kamis.

Saya ingat dulu, kami sering berselisih paham dan ujung-ujungnya entah saya atau Mama yang ngambek. Sekarang, hampir tidak pernah. Kalau pun ada perbedaan pendapat, saya berusaha meredam diri dan melembutkan kata-kata supaya beliau tidak tersinggung. Terutama jika ada hal-hal yang berkaitan dengan merawat Sid yang saya kurang setuju, saya biasanya menyampaikan dengan hati-hati, dengan pilihan kata yang baik. Sekarang ini, kalau sudah hampir-hampir mau berantem dengan Mama, saya langsung mundur teratur dengan cantik, ambil air wudhu (shalat bikin adem) atau ambil cemilan manis-manis (sibuk ngunyah jadi batal ngambek).

Ada satu kejadian yang paling membuat saya terhanyut, mengharu biru, menye-menye. Ketika itu saya sempat sakit, kurang tidur dan workload sedang unyu-unyunya di kantor. Sambil memijat ringan punggung saya, Mama berkata,
"Jadi ibu itu harus kuat, nggak boleh sakit. Kalau ibu sakit, seluruh keluarga bisa-bisa nggak ada yang ngurusin."
Saya langsung terhenyak mendengarnya. Betapa "receh" dan remeh sakit saya ini, sungguh tidak dapat dibandingkan dengan apa yang Mama telah lakukan untuk saya, untuk anak saya, untuk keluarga kami. She runs the house, she provides our food, she takes care of my baby, she caters for her husband, she manages to do all those things every single day. How does she do that?
"Itu namanya kekuatan seorang ibu..."
Benar, jangan pernah underestimate kekuatan seorang wanita yang telah menjadi ibu.
Hanya seorang ibu yang bisa menyulap rasa sakit setelah melahirkan menjadi tawa bahagia saat pertama kali melihat bayinya.
Hanya seorang ibu yang tahu bagaimana caranya tetap fokus meeting di pagi hari meski semalaman terjaga karena bayinya sedang sakit.
Hanya seorang ibu yang mampu menggendong anaknya selama berjam-jam meski berat badan anak kian bertambah dari hari ke hari.
Hanya seorang ibu yang selalu berharap Tuhan bisa memindahkan rasa sakit di tubuh si anak ke tubuhnya sendiri.
Hanya seorang ibu yang bisa mendahulukan keperluan anak dan keluarganya, lebih dari ia mendahulukan kepentingan dirinya.

Setelah menjadi ibu, saya jadi tahu. Kalau menjadi ibu ternyata bukan hanya sekedar punya anak, ngurus anak, ngasih makan, ngasih susu. Tanggung jawab, kedewasaan, dan kekuatan harus juga dimiliki oleh seorang ibu. Harus bisa membuang ego jauh-jauh, menjaga harmoni keluarga.

My First. My Last. My Everything!

Selamat Hari Ibu, Mama. Terima kasih sudah menunjukkan kepada saya, cinta yang luar biasa, tanpa kenal pamrih, tanpa batas waktu. Tidak akan bisa saya balas dengan cara apapun juga. Sebagai anak, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Mama senantiasa ditetapkan dalam Iman dan Islam, diberikan berkah kesehatan dan kebahagiaan lahir batin. Izinkan saya menyayangimu setiap hari, memelukmu tanpa bosan, mendoakanmu tanpa putus.

Every day should be a Mother's day, your day.
Because that's exactly how I'm going to love you.
Every single day.

Tuesday, December 6, 2016

Pride and Prejudice

No, this is not about my obsession with Mr. Darcy. I'm still obsessed, though, but probably I would share about it in another post.

Beberapa hari setelah melahirkan Sid, saya tergerak untuk membuat satu keputusan yang terbilang life-changing bagi kehidupan saya. Yes, I decided to cover up, atau bahasa trendinya mah berhijab.
Meski banyak yang menyambut gembira, ada juga beberapa orang yang sangat terkejut karena hampir tidak percaya saya bisa memutuskan untuk berubah secepat ini. No wonderI might not appear as the goody two-shoes girl, or I did not give out that much of a religious vibe. Tak mengapa, memang sedari dulu saya beranggapan bahwa hubungan saya dengan Tuhan sangat tidak perlu ditunjukkan maupun dibuktikan kepada orang lain. Kalau saya dinilai saleh, saya tidak merasa bangga (yaaa memang nggak sih, jadi nggak bangga hehehehe...). Pun kalau dibilang tidak taat, saya tidak perlu membela diri. It's something very personal between My Creator and I. Keputusan ini pun bukan tiba-tiba, kemarin-kemarin saya hanya menunggu datangnya si kemantapan hati sambil terus berusaha memperbaiki diri (paling susah nahanin supaya nggak ngomongin orang lain).

Nah, itu dulu. Lantas sekarang saya memutuskan untuk memakai atribut yang menunjukkan identitas keagamaan. Apakah saya sudah siap dengan segala manfaat dan risikonya, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial? Let's see...



New Look! Pardon The Bird Tho...
Di hari kedua saya kembali bekerja di kantor, tidak ada perubahan berarti dalam kegiatan sehari-hari yang saya rasakan. Hal yang kurang menyenangkan dan agak merepotkan menurut saya hanya saat memakai headset di kantor untuk mendengarkan musik, nggak bisa lagi seenaknya buka-pasang karena pasti menggeser ciput yang saya pakai. Lainnya? Sama saja, tidak ada perubahan. Malah semakin menyenangkan karena saya punya koleksi baju kantor (lama tapi) baru dan bisa mix and match sesuka hati dengan kerudung warna-warni. Reaksi teman-teman di kantor juga bermacam-macam, kebanyakan kaget dan beberapa tampak indifferent. Hanya ada segelintir orang yang bilang saya lebih bagus nggak pakai jilbab karena beragam alasan seperti:
"Sayang, rambut lo kan bagus."
"Pipinya jadi tembem banget!"
"Muka lo nggak cocok gitu... Kayak bukan lo."
"Kayak anak baik-baik banget!"
Nevermind. Komentar semacam itu saya tidak ambil pusing karena fisik dan penampilan masih bisa ditambal sulam. Lagipula, sejak persalinan otomatis fisik saya berubah karena baby weight masih sisa 5-6 kg (yang sepertinya malah kian bertambah, bukan berkurang) dan kantong mata serba heboh akibat kurang tidur.

Ada satu hal yang saya notice berbeda sejak saya memakai kerudung; tawaran pekerjaan di LinkedIn berkurang drastis. Sebelum saya mengganti display picture dengan tampilan baru saya, dalam 1 minggu selalu saja ada yang menghubungi via LinkedIn untuk sharing new opportunity. Lumayan laris manis, meski belum tentu berjodoh. Tetapi pengalaman terakhir ini membuat saya bertafakur.

Begini ceritanya...

Pernah ada seorang pegawai HR sebuah perusahaan yang menghubungi melalui LinkedIn sebelum saya mengganti foto profil, dia begitu semangat menelepon dan mengirimkan e-mail meski saya sudah bilang saya masih maternity leave. Ia bilang, "Nggak masalah, bos saya mau menunggu sampai Ibu siap bekerja kembali. Sekarang Ibu bisa mulai interview dulu." Tapi begitu saya bilang sekarang saya sudah pakai hijab, dia langsung memutus kontak tanpa ba-bi-bu. No thank-you note or saying regretfully sorry, only silent rejection.

Kesal? Nggak. Aneh? Lumayan. Padahal di negara dengan 80% populasi muslim ini seharusnya wanita berhijab adalah sesuatu yang lumrah dan sangat umum dijumpai. Jadi, mengapa ketika saya bilang saya menggunakan atribut penutup kepala lalu kesempatan saya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik, hilang begitu saja? Sekedar sharing, di perusahaan tempat saya bekerja dulu - yang mayoritas karyawannya adalah wanita, dan produknya memang ditujukan untuk mempercantik wanita, jelas berkeberatan dengan karyawan lini depan (yang memasarkan produk) yang memakai hijab. Saya lihat setiap hari, beberapa karyawan wanita langsung membuka penutup kepalanya dan menata rambut begitu tiba di kantor. Ketika jam pulang kantor, mereka kembali memakai kerudung. Saat itu saya belum memakai hijab, tapi sebagai orang yang sangat menghargai keragaman dan kebebasan beragama, jujur saya merasa sedih. Mereka rela melakukan itu demi pekerjaan, demi mendapat penghasilan, demi bertahan hidup. Ternyata, sekarang saya merasakan hal yang kurang-lebih serupa.

Di satu sisi saya merasa ada kebanggaan (pride) terhadap diri saya sendiri karena berani memutuskan untuk cover up seperti sekarang. Tetapi, perlukah saya merasa bahwa ada prejudice mengenai tampilan baru saya ini dalam dunia sosial, khususnya dunia kerja? Meski tidak ada yang berbeda dari diri saya; kemampuan kerja saya sama, lingkar otak saya juga tidak berkurang karena ditutup kerudung (saya tidak ikut-ikutan mengganti helm dengan penutup kepala lainnya, if you know what I mean). Apakah saya dilihat sebagai orang yang memiliki banyak batasan, atau banyak keterbatasan? Apakah saya jadi tidak presentable di depan publik saat launching produk, padahal produk itu untuk wanita Indonesia yang mayoritas satu keyakinan dengan saya? Apakah saya jadi terlihat kuno, tidak modern?  Apakah kepribadian saya tidak lagi outgoing? Apakah saya jadi tidak ambisius, enggan bekerja keras, tidak bisa meet the deadline? Apakah Bahasa Inggris saya jadi acak-acakan karena saya (tampak seperti) mengikuti budaya Arab? Apakah ini berarti karir saya sudah mentok, saya tidak bisa jadi director dengan tampilan seperti ini?

Saya tidak tahu pasti jawaban semua itu, kalau saya terus bertanya nanti saya malah menambah berat dosa karena berprasangka buruk (which I already did by writing them here). Saya hanya tahu pasti, ternyata tidak semudah itu juga menjadi mayoritas di negara ini, let alone being a minority - pasti lebih sulit lagi. Saya berharap lama kelamaan makin banyak orang yang menghargai kemajemukan negara ini, bukan malah menginginkan hal yang serba seragam bagi semua - yang seringkali memaksa sebagian orang bertindak represif terhadap orang yang tidak sependapat. Semoga kesempatan memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupan bisa diraih oleh siapa saja, tanpa memandang embel-embel fisik dan keyakinan. Semoga lebih banyak yang menyadari bahwa lebih penting untuk menghargai orang lain dan melakukan kebaikan, bukan saling pointing fingers dan berlomba menjadi mayoritas supaya bisa "menang". 



You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one...

P.S. Tulisan ini nggak usah dikaitkan dengan isu Pilkada DKI Jakarta ya. Tujuannya berbeda kokbeneran deh

Tuesday, November 29, 2016

Breastpump Review: Medela Swing

Sebagai seorang working mom yang masih diberi kesempatan berharga untuk memberikan ASI, tentu peralatan tempur saya yang paling utama adalah breastpump alias pompa ASI. Betapa beruntungnya kita saat ini karena sudah mudah sekali untuk memerah dan menyimpan ASI untuk diberikan kepada bayi ketika kita sedang tidak bersama dia di rumah. Mau pompa ASI manual ataupun elektrik, semua serba ada - tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Lebih berbahagia lagi jika kita bekerja di kantor yang busui-friendly dan menyediakan ruang khusus untuk menyusui/memompa ASI. Di tempat saya bekerja tidak ada ruang khusus untuk ibu menyusui sehingga saya biasa memompa di mushola wanita, atau di sample room (ruang kosong untuk simpan produk sample) di dalam kantor. Sebenarnya lebih nyaman untuk memompa di sample room karena ada kursi dan meja lengkap sehingga saya bisa duduk dan menaruh peralatan di meja, tapi sayangnya kalau kantor sedang ramai (banyak lawan jenis lalu lalang) saya kurang nyaman keluar masuk ke sample room untuk menunaikan kewajiban ASIP saya. Habis, sepertinya obvious banget saya masuk ke ruang itu untuk "beraktivitas". Jadilah saya lebih sering melakukan pompa-memompa di mushola wanita, meski harus duduk bersila dan tidak bisa bersandar punggung.

Selama hampir 2 bulan kembali bekerja dan menjalani aktivitas breast-pumping ini, saya baru ngeh kalau pompa ASI yang cocok itu penting buangeeeeeet karena berkaitan dengan kenyamanan penggunaan serta bisa memberikan hasil yang maksimal. Selama 2 minggu pertama, saya bertahan hanya dengan menggunakan pompa single Medela Swing. Lama kelamaan saya nggak betah juga karena sesi pumping bisa memakan waktu hampir satu jam sampai beres kedua PD - nggak enak juga kelamaan kabur dari meja, meskipun Pak Bos pasti mengerti mengapa saya kerap kabur-kaburan.

Akhirnya saya mulai cari-cari review pompa ASI di blog dan forum online. Setelah baca-baca beberapa hari, saya putuskan untuk membeli pompa ASI baru yang bisa memompa kedua PD sekaligus supaya mempersingkat waktu pumping. Pilihan saya jatuh pada Spectra 9+, pompa ASI elektrik double pump yang dilengkapi dengan baterai yang bisa di-charge sehingga pompa ini bisa dipakai dimana saja tanpa harus tersambung dengan kontak listrik.

Nah, karena sudah punya dua buah pompa ASI yang berbeda maka saya sudah bisa membandingkan dan siap untuk me-review. Saya mulai dengan pompa ASI pertama saya, let's go!

Medela Swing

Medela punya dua jenis breastpump dengan nama Swing, yaitu Swing dan Swing Maxi. Keduanya punya bentuk motor pompa yang sama tapi corong yang berbeda; Swing untuk single pump dan Swing Maxi untuk double pump. Karena saya beli pompa ini pas dua hari setelah melahirkan tanpa melalui riset dan ceki-ceki yang memadai (dulu santai banget, kirain pas cuti belum butuh pompa), maka saya kurang paham bedanya single dan double selain dari corong dan price tag pastinya. Medela Swing ini saya beli di Babyzania.com dengan harga sekitar Rp 1,8 juta diantar pakai Go-Jek sehingga bisa tiba di hari yang sama.
Penampakan Medela Swing Siap Dipakai
Picture taken from Medela Official Site

Menurut saya, Medela Swing ini cukup ringkas, ringan dan gampang dibawa kemana-mana. Tapi karena sumber daya utamanya adalah adaptor yang perlu dicolok listrik, maka supaya bisa dipakai dimana saja, kapan saja, perlu dimasukkan baterai AA sebanyak 4 buah - saya pakai baterai lithium Energizer supaya tahan lebih lama dan daya isapnya tetap kuat, kalau hanya baterai AA biasa rasanya akan cepat habis. Keunggulan Medela Swing lainnya menurut saya adalah desain tiap komponen yang praktis; mudah dilepas, mudah dipasang, mudah dibersihkan serta mudah disimpan tanpa makan banyak tempat di tas.

Parts Medela Swing
Picture taken from Hello Baby Blog

Berikut penjelasan tiap part-nya.
1. Motor Unit, untuk memulai sesi pumping tinggal tekan tombol bergambar lingkaran lalu pompa akan langsung mulai 2 menit sesi massage dan berganti otomatis ke sesi expression yang bisa di-adjust kekuatannya dengan menekan tombol plus minus.
2. Connector / Valve Head, bagian ini merupakan terminal yang akan menggabungkan selang, valve membrane, dan corong.
3. Botol Penampung ASI, ukuran 150mL. Bisa langsung disambungkan dengan nipple ketika bayi ingin minum. Leher botol slim, bisa pakai nipple Medela Calma tapi saya nggak pakai karena Sid nggak suka, instead saya pakai Pigeon dan ukurannya pas sehingga botol bisa dipakai bergantian.
4. Breastshield / Corong PD, bagian ini menempel langsung dengan PD ibu. Di unit standar pembelian, diberikan corong ukuran M berdiameter 24mm, ukuran lain juga tersedia dan bisa dibeli terpisah di online shop yang menjual sparepart Medela.
5. Valve Membrane, hati-hati ketika mencuci bagian ini karena membrane (warna putih) ukurannya kecil dan mudah lepas.
6. Tubing / Selang, menghubungkan bagian motor unit dengan botol dan connector.

What I Love About Medela Swing?
- Praktis, ringkas, mudah.
- Karena setiap parts bisa dilepas maka pencucian lebih mudah dan lebih bersih.
- Materi plastik setiap komponennya terlihat lebih bagus, sturdy dan tidak mudah rusak. Yang terlihat fragile hanya bagian membrane berwarna putih yang memang harus diganti secara berkala.
- Suara tidak begitu berisik, masih bisa diredam kalau ditutup kain atau bantal.
- Portable, bisa dipakai dimana saja dengan menggunakan baterai.
- Nyaman, pijatan dan suction terasa lembut dan nggak bikin sakit (saya biasa pakai level 5-6).
- Warna kuning unyu.

What I Don't Like About Medela Swing?
- Mahal, dengan harga Rp 1,8 juta cuma dapat single pump.
- Lamaaaaaa... Karena single pump dan daya isapnya terbilang lembut, jadi untuk memompa kedua PD baru bisa selesai dalam waktu 30-40 menit.
- Tidak ada indikator waktu sehingga kalau pumping harus pasang timer di smartphone supaya nggak kebablasan.
- Fase massage hanya ada di awal dan cuma 2 menit. Setelah pindah ke fase expression, harus dimatikan dulu kalau mau balik ke fase massage.
- Masih open system, artinya ASI bisa masuk ke dalam selang, bahkan ke dalam motor unit karena tidak ada penghalang.
- Harus ganti baterai lithium sekitar 1-1.5 bulan sekali. Baterai lithium harganya sekitar Rp 70 ribu per 2 buah, sehingga sekali ganti baterai sekirar Rp 140 ribu.
- Harus siap-siap baterai cadangan yang selalu dibawa karena nggak ada indikator pemakaian baterai.
- Harga sparepart terbilang lebih mahal dibandingkan merek pompa lain.

In summary, Medela Swing ini bisa dikatakan sebagai pompa ASI premium. Kualitas baik, pemakaian sangat nyaman dan mudah karena pompa ini well-designed sehingga mudah dibuka-pasang serta mudah dibersihkan. Hanya saja, Medela Swing ini kurang cocok bagi ibu bekerja yang harus curi-curi waktu di kantor untuk bolak-balik pumping demi memerah liquid gold yang sangat berarti untuk si kecil. Mungkin lebih cocok untuk digunakan di rumah, karena saya biasa pakai untuk pumping saat Sid selesai menyusui untuk mengosongkan PD atau ketika saya bangun pagi hari. Karena kebutuhan saya di kantor, maka saya memutuskan untuk cari breastpump lain tetapi Medela Swing ini akan saya simpan, atau mau dijual saja (kalau laku) lalu beli Spectra S1 deh (loooooh, masih mau beli pompa lagiiii?).

Saturday, November 5, 2016

Keyakinanku, Keyakinanmu

Saya pernah menjalin rasa dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Apakah itu nista?

Karena ia baik. Ia tidak pernah melarang saya beribadah, malah sabar menyuruh dan menunggu saya sholat, dan ketika saya berpuasa ia menemani hingga tiba waktu berbuka. Saya pun tidak pernah mencampuri ketika ia harus pergi di hari Minggu. Semua terasa biasa.

Kami bahagia.
Untuk beberapa saat...

Singkat cerita, kami mulai merasa ada hal yang mengganjal. Justru rasa ini muncul ketika kami semakin dekat, ingin naik tingkat.  Saya ingin memiliki, saya ingin menarik dia menyeberang ke lain sisi, saya ingin dia untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk beribadah dengan cara saya beribadah. Saya mulai belajar dan belajar lagi, gali-gali kitab suci, tanya sana sini. Bahkan cari informasi dari forum yang sangat tidak terpuji, penuh dengan benci dan bahasa yang keji (sepertinya sekarang sudah di-banned as it was a truly savage site), dimana umat yang berseberangan saling serang dengan nada-nada berang. Semua saya lakukan untuk memohon, memaksa dia supaya ikut kepercayaan saya. Saya jadi gelap mata, pokoknya dia harus ikut saya.

Namun apa yang terjadi? Kami semakin menjauh. Semua kajian yang saya paksakan kepada dia terpental begitu saja. Bukannya makin sama, kami malah makin beda. Domba dan kambing pun kami perdebatkan. Tidak ada lagi bahagia. Saya malah menista agamanya karena saya bilang Tuhan dia bukan Tuhan. Padahal kalau kepala saya dingin, saya cuma akan bilang bahwa Tuhan dia bukan Tuhan yang saya yakini and there's nothing wrong with that, let's just agree to disagree. Sungguh beda kan kedua pernyataan itu?

Singkat cerita lagi, kami berpisah.

Saya sedih, saya kehilangan. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana lain untuk saya (dan dia) sehingga tidak perlu kecewa. Berbekal keyakinan itu, saya jadi tenang. Tidak berlama-lama terpuruk dan mulai susun-susun kembali hati yang tadinya remuk. 

Benar saja. Saya lalu dipertemukan dengan (waktu itu masih calon) suami. Saya pelajari bahwa ayahnya (mertua saya kini) kerap membimbing orang untuk jadi mualaf. Beliau lakukan dengan cara yang amat beda (dengan apa yang dulu saya coba lakukan) - beliau buat terang semua tentang Islam, yang damai, yang penuh cinta, yang tenang dan menenangkan. Beliau (hanya) berkisah tentang kebesaran dan keajaiban Tuhan sebagaimana ditulis di dalam kitab suci, tidak lebih, tidak kurang. He does it in a certain way that those people, who wish to convert, finally believe by themselves. Bukan seperti dicekoki, tapi mengalir begitu saja dan jadi yakin dengan sendirinya. Sungguh Tuhan Maha Baik, menyadarkan saya atas kesalahan yang pernah saya buat dengan mempertemukan saya dengan suami, dengan ayah mertua.

Jadi, kembali lagi ke si dia yang terdahulu...

Meski kini kami tidak saling sapa, saya percaya kami masih saling mengingat dan saling berterima kasih. Karena saya meneguhkan keyakinan dia, dan dia memantapkan keyakinan saya. Percaya akan besarnya kasih sayang Tuhan dengan masing-masing cara, bukankah itu yang paling utama?

Lakum diinukum waliyadiin.

Thursday, October 6, 2016

The Pumping Management

Tidak terasa tinggal 1 minggu sebelum saya harus kembali bekerja. Kembalilah baby blues melanda... Mengapa? Karena bonding antara bayi dan ibu semakin erat, ibu pun sudah terbiasa mengurus bayi dan mulai terasa nikmat karena bayi sedang lucu-lucunya pada usia menjelang 3 bulan ini. Sid sudah bisa tersenyum, tertawa dan bersuara lucu ketika merespon orang-orang yang berada di dekatnya, terutama ibu. Rasanya nggak ingin balik ngantor, tapi berhubung biaya sekolah konon semakin mahal, maka ibu harus setloooooonggg!

Straight from Day 1, alhamdulillah Sid hingga hari ini masih bisa menikmati ASI eksklusif (ASIX). Namun sejak Sid berusia 1 minggu, saya sudah mulai mencicil peralatan untuk pemberian ASIP dan belajar pumping. Pernah dua kali saya terpaksa berikan ASI perah (ASIP) yang tidak dibekukan dari botol susu karena ada sedikit bloody show di PD saya (menurut suster sebaiknya jangan diberikan langsung, tunggu luka kering dulu). Sid minum dari botol tanpa kesulitan (saya trial pakai botol Philips Avent), tapi saya langsung hentikan penggunaan botol begitu luka sembuh karena menurut artikel-artikel yang saya baca, sebaiknya bayi ASIX dikenalkan dengan botol susu di atas usia 6 minggu (waktu itu usia Sid masih 2 minggu).

Ternyata belajar manajemen pumping lebih sulit dari belajar manajemen pemasaran ketika kuliah dulu. Masalahnya, pumping berkaitan dengan ibu dan bayi yang dipengaruhi banyak faktor. Kemampuan fisik setiap ibu untuk memproduksi ASI bisa bervariasi dari hari ke hari, begitu juga dengan kemauan bayi meminum ASI. Ada akun IG yang terkenal di kalangan ibu pejuang ASI yang menyuarakan rumus Supply = Demand (wuih, semacam kuliah Mikroekonomi nih) - jadi, ibu harus rutin pumping 2 jam sekali untuk memperbanyak produksi ASI. Saya sih mau saja pumping 2 jam sekali, tapi masalahnya 2 jam itu pas Sid bangun dan minta diajak main atau minum ASI atau simply mau ngempil saja, nggak sempat pumping. Alhasil, saya hanya sempat pumping 1 kali sebanyak 150mL ketika Sid tidur malam - kebetulan Sid sudah bisa tidur malam agak lama sekitar 4-5 jam. Suka iri banget kalau lihat hashtag #pejuangASI di IG yang bisa dapat ASIP banyak, hiks, jangan patah semangat!

Tentu saya masih harus belajar banyak tentang manajemen pumping ketika kembali bekerja, mudah-mudahan cepat pintar ya. Jadi, sekarang saya sharing tentang peralatan perah-memerah dulu.

1. Medela Swing
Paling penting dipunya dan paling mahal harganya di antara peralatan yang lain. Saya baru beli di hari ke-3 setelah lahiran karena ada sedikit bloody show yang bikin PD bengkak. Beli breast pump ini di Babyzania.com karena harganya paling ok dibandingkan online store lain dan bisa dikirimkan ekspres lewat Gojek. So far, suka dan nggak ada masalah dengan breast pump ini, jadi nggak ingin coba-coba yang lain. Breast pump ini memang banyak direkomendasikan, baik dari review internet maupun teman-teman dekat. Saya suka karena ukurannya compact, daya isap lembut tapi kuat, dan nggak berisik. Bisa pakai batere (saran saya pakai batere lithium, lebih mahal tapi awet) atau adaptor. Saya juga beli satu set pumping connector tambahan (connector, valve, membran dan breast shield) supaya bisa dipakai bergantian.

2. Botol Susu
Dari set Medela Swing, saya dapat 2 botol susu Medela ukuran 150mL tapi tanpa nipple Medela Calma yang saya beli terpisah (di Babyzania.com juga). Saya beli lagi 1 set botol susu Medela (isi 3) karena takut kurang, eh nggak tahunya saya dapat kado 2 botol susu Philips Avent dan 2 botol susu Pigeon (kedua merek ini sudah dapat nipple). Medela Calma bagus, karena susu hanya keluar ketika bayi menyedot (ada semacam lubang kecil yang mengatur keluarnya cairan) sehingga cocok untuk bayi yang baru belajar menggunakan botol. Philips Avent Natural juga ok, karena diklaim memiliki bentuk nipple natural dan ukuran botol susu yang lebar sehingga mudah dipegang dan mudah dibersihkan. Pigeon Peristaltic ini bentuknya paling basic menurut saya, model botol slim neck sehingga terlihat paling langsing di antara 3 tipe botol yang saya punya. Let's see Sid suka botol yang mana...

3. Kantung Plastik ASI
Saya pernah baca artikel di blog seorang ibu yang membandingkan penggunaan botol kaca dan kantung plastik untuk penyimpanan ASIP. Hasilnya, botol kaca memang jauh lebih hemat dan tidak bocor tapi cukup repot karena butuh storage yang besar dan harus bolak-balik dicuci serta disterilkan. Kantung plastik ASI jelas lebih mahal karena hanya sekali pakai (nggak eco-friendly juga) dan jika tidak hati-hati plastik mudah bocor, tapi lebih praktis dan hemat tempat. Karena nggak ingin repot cuci botol dan nggak ingin menambah freezer, saya putuskan pakai kantung plastik ASI. Saya pakai kantung plastik ASI merek Gabag dan Natur. Gabag sedikit lebih tebal dan sturdy (bisa berdiri jika diisi) dibandingkan Natur, tapi Natur bisa disimpan dalam bentuk gepeng/pipih sehingga mudah diatur dan hemat tempat.

4. Sterilizer
Berhubung boleh request kado lahiran, saya minta dibelikan sterilizer oleh teman kantor suami. Jadi saya dapat steam sterilizer Pigeon yang juga dilengkapi dengan bottle and food warmer. Sebenarnya sterilizer Pigeon ini cukup bagus, tapi hasilnya botol masih basah karena disterilkan dengan menggunakan steam. Akhirnya saya beli Panasonic D-sterile (kebetulan dapat voucher Rp 100.000 dari Blibli.com) yang bisa mengeringkan dan mensterilkan. Pigeon sterilizer masih dipakai untuk bottle warmer (ketika ASIP sudah cair dan sudah dipindah ke botol).

5. Pembersih Peralatan ASIP
Pembersih ini terdiri dari sabun cuci, waslap dan sikat botol. Sabun cuci saya memakai Pure Baby Liquid Cleanser karena harganya terjangkau (sering promo juga) dan mudah didapat di online maupun offline store. Waslap saya pakai sebagai pengganti tapas pencuci. Khusus untuk pencuci botol susu, saya memakai Boon Suds yang sangat praktis.

I think that's all for now. Sekarang saya harus move on ke tahap berikutnya yang lebih menantang yaitu Bottle Training!

 
Images by Freepik